Apa itu Sastra
Sastra merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa sansekerta yang
berarti teks yang mengandung "Intruksi" atau "pedoman".
Dari kata "Sas" yang berarti "Ajaran"
dan "Tra" yang berarti "Sarana" namun, menurut KBBI (Kamus Besar
Bahasa Indonesia) sastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan
trulisan biasa lainnya, memiliki berbagai cirri keunggulan, keaslian,
keartistikan, keindahan, isi dan ungkapan. Karya sastra sendiri merupakan
karangan yang memiliki nilai kebaikan berupa tulisan dengan bahasa yang indah
penuh estetika. Sastra sendiri juga memberikan pengetahuan dan wawasan umum
mengenai manusia, sosial, intelek, dengan gaya
yang khas dan unik. Di mana pembaca sastra dapat menginterpretasikan teks
sastra sesuai dengan pengalamanan dan wawasannya, Semua kembali ke pembaca dan
penikmat.
Banyak orang yang keliru dalam memaknai sastra
itu sendiri karena sering kali seseorang memaknai sastra hanyalah sebuah teks
saja, padahal tidak semua teks adalah sastra. Sastra adalah suatu hal yang
berhubungan dengan bahasa yang dijadikan sebagai wahanan untuk mengekspresikan
pengalaman atau pemikiran tertentu atau imajinas dari seorang sastrawan itu
sendiri. Sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik
dan imajinatif sebagai manifestasi dari kehidupan manusia melalui bahasa
sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap manusia ( Mursal Esten
1978:9)
Ilmu sastra sudah
merupakan ilmu yang cukup tua usianya. Ilmu ini sudah berawal pada abad ke-3
SM, yaitu pada saat Aristoteles ( 384-322 SM) menulis bukunya yang berjudul
Poetica yang memuat tentang teori drama tragedi. Istilah poetica sebagai teori
ilmu sastra, lambat laun digunakan dengan beberapa istilah lain oleh para
teoretikus sastra seperti The Study of Literatur, oleh W.H. Hudson, Theory of
Literatur Rene Wellek dan Austin Warren, Literary Scholarship Andre Lafavere,
serta Literary Knowledge (ilmu sastra) oleh A. Teeuw. Ilmu sastra meliputi ilmu
teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga disiplin ilmu tersebut
saling terkait dalam pengkajian karya sastra. Dalam perkembangan ilmu sastra,
pernah timbul teori yang memisahkan antara ketiga disiplin ilmu tersebut.
Khususnya bagi sejarah sastra dikatakan bahwa pengkajian sejarah sastra
bersifat objektif sedangkan kritik sastra bersifat subjektif. Di samping itu,
pengkajian sejarah sastra menggunakan pendekatan kesewaktuan, sejarah sastra
hanya dapat didekati dengan penilaian atau kriteria yang pada zaman itu. Bahkan
dikatakan tidak terdapat kesinambungan karya sastra suatu periode dengan
periode berikutnya karena dia mewakili masa tertentu. Walaupun teori ini
mendapat kritikan yang cukup kuat dari teoretikus sejarah sastra, namun
pendekatan ini sempat berkembang dari Jerman ke Inggris dan Amerika. Namun
demikian, dalam prakteknya, pada waktu seseorang melakukan pengkajian karya
sastra, antara ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait.
Berdasarkan urutanya sastra di bagi
menjadi 6 golongan
Golongan pertama adalah sastra-sastra
yang ditulis dalam bahasa-bahasa bekas kaum penjajah—bahasa-bahasa Prancis,
Spanyol, Portugis dan—terutama—Inggris. Lagipula, lembaga penerbitan di
khazanah bahasa-bahasa itu memang luar biasa kuatnya, sehingga jadilah mereka
agen-agen globalisasi yang kuat. (Maka kita paham kenapa sastra Argentina dan
sastra Brasil mudah ditangkap oleh industri perbukuan di dunia ini.) tokoh
tokoh yang terkenal dalam masa itu adalah Viktor Hugo, Alexander Dumas, Charles
Dicknes
Golongan kedua adalah sastra-sastra
yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang terpelihara sejak dari masa klasik ke
masa modern—misalnya saja, bahasa-bahasa Arab, Turki, Cina, Jepang. Sementara
itu, minat dunia akademik di Barat terhadap bahasa-bahasa ini juga sudah
melembaga lantaran bangsa-bangsa yang membawa bahasa-bahasa tersebut (pernah)
telanjur kuat dalam sebaran agama, perdagangan, dan diaspora terkait.tok
Golongan ketiga adalah sastra-sastra
yang ditulis dalam bahasa-bahasa Eropa “pinggiran”—misalnya bahasa-bahasa
Rusia, Finlandia, Swedia, Cek; bahkan bahasa-bahasa Albania, Polandia,
Lithuania. Mereka ini bukan hanya “saudara sepupu” Eropa Barat; dalam lapangan
seni budaya, mereka pernah menyumbang banyak kepada gerakan modernisme
artistik
Golongan keempat adalah sastra-sastra
dalam bahasa-bahasa setempat yang, betapapun lebih terbaca luas di negeri-negeri
bersangkutan, tertutup (kepada dunia luar) oleh sastra berbahasa
bekas-penjajah, misalnya Inggris. Ini kasus untuk sastra-sastra yang ditulis
dalam bahasa-bahas Hindi, Tamil, Telugu, Mayalayam, Bengali, Urdu di anak
benua India dan Pakistan, misalnya.
Golongan kelima adalah sastra-sastra
nasional yang dijajakan oleh bangsa-bangsa yang bersangkutan ke seluruh dunia,
sebagai bagian dari kiprah mereka sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang
baru. Misalnya saja sastra Korea Selatan dan Cina. (Sebagaimana kita tahu,
Korea Selatan, adalah negeri yang sangat bersistem mengembangkan ekonomi
kreatif.)
Golongan keenam adalah sastra-sastra
yang ditulis dalam bahasa-bahasa nasional yang tidak dikenal dunia; dan
bangsa-bangsa yang bersangkutan pun tidak menjalankan diplomasi budaya yang
genah, yang bisa membuat hasil-hasil seni dan sastra mereka dikenal masyarakat
internasional. Sastra Indonesia termasuk ke golongan ini. ( Nirwan Dewanto
editor sastra dan kurator seni )
https://islandsofimagination.id/web/id/articles/dimanakah-sastra-dunia
http://repository.ut.ac.id/4735/1/PBIN4104-M1.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar