Minggu, 26 April 2020

Pengertian Sastra

Assalamualikum Wr. Wb

Apa itu Sastra 

Hal Penting Di Jurusan Sastra Yang Harus Kamu Tahu - Tes Bakat ...


Sastra merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa sansekerta yang berarti teks yang mengandung "Intruksi" atau "pedoman". Dari kata "Sas" yang berarti "Ajaran" dan "Tra" yang berarti "Sarana" namun, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan trulisan biasa lainnya, memiliki berbagai cirri keunggulan, keaslian, keartistikan, keindahan, isi dan ungkapan. Karya sastra sendiri merupakan karangan yang memiliki nilai kebaikan berupa tulisan dengan bahasa yang indah penuh estetika. Sastra sendiri juga memberikan pengetahuan dan wawasan umum mengenai manusia, sosial, intelek, dengan gaya yang khas dan unik. Di mana pembaca sastra dapat menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan pengalamanan dan wawasannya, Semua kembali ke pembaca dan penikmat.

Banyak orang yang keliru dalam memaknai sastra itu sendiri karena sering kali seseorang memaknai sastra hanyalah sebuah teks saja, padahal tidak semua teks adalah sastra. Sastra adalah suatu hal yang berhubungan dengan bahasa yang dijadikan sebagai wahanan untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu atau imajinas dari seorang sastrawan itu sendiri. Sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi dari kehidupan manusia melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap manusia ( Mursal Esten 1978:9)

Ilmu sastra sudah merupakan ilmu yang cukup tua usianya. Ilmu ini sudah berawal pada abad ke-3 SM, yaitu pada saat Aristoteles ( 384-322 SM) menulis bukunya yang berjudul Poetica yang memuat tentang teori drama tragedi. Istilah poetica sebagai teori ilmu sastra, lambat laun digunakan dengan beberapa istilah lain oleh para teoretikus sastra seperti The Study of Literatur, oleh W.H. Hudson, Theory of Literatur Rene Wellek dan Austin Warren, Literary Scholarship Andre Lafavere, serta Literary Knowledge (ilmu sastra) oleh A. Teeuw. Ilmu sastra meliputi ilmu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait dalam pengkajian karya sastra. Dalam perkembangan ilmu sastra, pernah timbul teori yang memisahkan antara ketiga disiplin ilmu tersebut. Khususnya bagi sejarah sastra dikatakan bahwa pengkajian sejarah sastra bersifat objektif sedangkan kritik sastra bersifat subjektif. Di samping itu, pengkajian sejarah sastra menggunakan pendekatan kesewaktuan, sejarah sastra hanya dapat didekati dengan penilaian atau kriteria yang pada zaman itu. Bahkan dikatakan tidak terdapat kesinambungan karya sastra suatu periode dengan periode berikutnya karena dia mewakili masa tertentu. Walaupun teori ini mendapat kritikan yang cukup kuat dari teoretikus sejarah sastra, namun pendekatan ini sempat berkembang dari Jerman ke Inggris dan Amerika. Namun demikian, dalam prakteknya, pada waktu seseorang melakukan pengkajian karya sastra, antara ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait. 



Berdasarkan urutanya sastra di bagi menjadi 6 golongan 

Golongan pertama adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa bekas kaum penjajah—bahasa-bahasa Prancis, Spanyol, Portugis dan—terutama—Inggris. Lagipula, lembaga penerbitan di khazanah bahasa-bahasa itu memang luar biasa kuatnya, sehingga jadilah mereka agen-agen globalisasi yang kuat. (Maka kita paham kenapa sastra Argentina dan sastra Brasil mudah ditangkap oleh industri perbukuan di dunia ini.) tokoh tokoh yang terkenal dalam masa itu adalah Viktor Hugo, Alexander Dumas, Charles Dicknes
Golongan kedua adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang terpelihara sejak dari masa klasik ke masa modern—misalnya saja, bahasa-bahasa Arab, Turki, Cina, Jepang. Sementara itu, minat dunia akademik di Barat terhadap bahasa-bahasa ini juga sudah melembaga lantaran bangsa-bangsa yang membawa bahasa-bahasa tersebut (pernah) telanjur kuat dalam sebaran agama, perdagangan, dan diaspora terkait.tok
Golongan ketiga adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa Eropa “pinggiran”—misalnya bahasa-bahasa Rusia, Finlandia, Swedia, Cek; bahkan bahasa-bahasa Albania, Polandia, Lithuania. Mereka ini bukan hanya “saudara sepupu” Eropa Barat; dalam lapangan seni budaya, mereka pernah menyumbang banyak kepada gerakan modernisme artistik
Golongan keempat adalah sastra-sastra dalam bahasa-bahasa setempat yang, betapapun lebih terbaca luas di negeri-negeri bersangkutan, tertutup (kepada dunia luar) oleh sastra berbahasa bekas-penjajah, misalnya Inggris. Ini kasus untuk sastra-sastra yang ditulis dalam  bahasa-bahas Hindi, Tamil, Telugu, Mayalayam, Bengali, Urdu di anak benua India dan Pakistan, misalnya.
Golongan kelima adalah sastra-sastra nasional yang dijajakan oleh bangsa-bangsa yang bersangkutan ke seluruh dunia, sebagai bagian dari kiprah mereka sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang baru. Misalnya saja sastra Korea Selatan dan Cina. (Sebagaimana kita tahu, Korea Selatan, adalah negeri yang sangat bersistem mengembangkan ekonomi kreatif.)
Golongan keenam adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa nasional yang tidak dikenal dunia; dan bangsa-bangsa yang bersangkutan pun tidak menjalankan diplomasi budaya yang genah, yang bisa membuat hasil-hasil seni dan sastra mereka dikenal masyarakat internasional. Sastra Indonesia termasuk ke golongan ini. ( Nirwan Dewanto editor sastra dan kurator seni )

https://islandsofimagination.id/web/id/articles/dimanakah-sastra-dunia
http://repository.ut.ac.id/4735/1/PBIN4104-M1.pdf




Tidak ada komentar:

Posting Komentar