Minggu, 17 Mei 2020

Prosa Fiksi di Indonesia dan Perkembanganya

Pengertian Prosa Fiksi 

    Prosa Fiksia adalah suatu karya sastra yang berbentuk narasi atau  sifat yang berbentuk khayalan 
dan benar-benar tidak terjadi di dunia nyata. Prosa merupakan suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena varian ritem "rhythm" yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Namun secara harifiah kata prosa berasa dari bahasa latin yaitu "prosa" yang artinya terus terang 
    Prosa Fiksi ialah kisahan atau ceritera yang di emban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolaka dari hasil imajinasi pengarangnya 
( Aminuddin,  2002:66 ) 

Jenis-jenis Prosa Fiksi

1 ) Prosa Fiksi lama
        Prosa Fiksi lama adalah Prosa bahasa Indonesia yang belum terpengaruh budaya barat.
ciri-cirinya adalah 
a ) bersifat statis atau mengalami pengembangan yang lamban
b ) bersifat istana sentris
c ) bersifat fantasi
d ) bersifat anonim

2 ) Prosa Fiksi Modern
        Prosa Fiksi modern adalah sebuah karya sastra yang ceritanya telah terpengeruh oleh budaya barat.
ciri-cirinya adalah :
a ) bersifat dinamis atau berubah-ubah
b ) bersifat realistis
c ) adanya perngaruh budaya barat
d ) terdapat nama pengarang

untuk unsur-unsur dalam Prosa Fiksi intrinsik ataupun ekstrisnsik hampir sama dengan unsur unsur yang ada pada cerita novel yaitu :
- tema
- tokoh 
- alur 
- amanat
- latar
- sudut pandang 
- gaya bahasa

Sejarah Perkembangan Prosa Fiksi di Indonesia

a.    Periode Balai Pustaka (1920-1930)
Angkatan Balai Pustaka lahir pada tahun 1920, menguat pada 1925-1935 dan melemah pada 1940. Jenis prosa yang dominan pada periode ini adalah roman atau novel. Permasalahan yang diangkat kebanyakan roman pada periode ini adalah adat, jarak antara kaum tua dan kaum muda, umumnya bersifat kedaerahan. Contohnya Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan Salah Asuhan karya Abdul Muis.
b.    Periode Pujangga Baru
Angkatan Pujangga Baru lahir pada tahun 1930, menguat pada 1933-1940, dan melemah pada 1945. Jenis prosa yang dominan adalah roman. Permasalahan yang diangkat pada periode ini adalah kehidupan masyarakat kota, individu manusia, nasionalisme, dan bersifat didaktis. Contohnya Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, Belenggu karya Armijn Pane, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka.
c.    Periode 1945
Angkatan ini populer dengan nama angkatan Chairil Anwar dengan puisi-puisinya. Untuk prosa fiksi, bentuk cerpen mulai dominan menyertai roman. Angkatan ini lahir pada 1940, menguat oada 1943-1953, dan melemah pada 1955-an. Permasalahan yang muncul dalam karya periode ini seputar kemasyarakatan, kemiskinan, hak asasi, ketidakadilan, dan lain-lain. Timbulnya permasalahan ini disebabkan pada masa itu Indonesia sedang berjuang merebut kemerdekaan.
Contoh karya pada saat itu, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (kumpulan cerpen) karya Idrus, Atheis (novel) karya Achdiat Karta Mihardja, dan Jalan Tak Ada Ujung (novel) karya Mochtar Lubis.
d.    Periode angkatan 1950
Angkatan ini mulai muncul (lahir) pada tahun 1950, menguat pada 1955-1965, dan melemah pada 1970. Corak sastra pada periode ini beragam, ada yang tunduk dengan politik dan ada yang tetap bebas. Contoh karya pada periode ini Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Penakluk Ujung Dunia (novel) karya Bokor Hutasuhut, dan Di Tengah Padang (kumpulan cerpen) karya Bastari Asnin.
e.    Periode angkatan 1970
Angkatan ini sudah mulai muncul pada 1960-an, namun mulai menguat pada 1970-an dan melemah sekitar tahun 1980-an. Pada periode ini mesin cetak mulai berkembang sehingga banyak karya sastra yang bermunculan. Tema yang muncul pada karya periode ini adalah sufistik (religius) dan absurdisme (simbolik). Contoh karya pada periode ini Godlob (kumpulan cerpen) karya Danarto. Olenka (novel) karya Budi Darma, Stasiun (novel) karya Putu Wijaya, dan Khotbah di Atas Bukit (novel) karya Kuntowijoyo. 

Di bawah ini adalah satu contoh karya Prosa Fiksi lama dan Prosa Fiksi Modern
 
Prosa lama

Cerita lutung kasarung bisa ditemui di daerah PasundanDi daerah tersebut tinggal seorang raja yang sangat bijaksana bernama Prabu Tapak Agung. Raja ini mempunyai dua orang anak yang bernama Purbasari dan Purbararang. Di akhir hidup sang ayah, ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa ia ingin turun tahta. Ia meminta Purbasari agar menggantikan kedudukannya sebagai seorang pemimpin di kerajaannya. Kakaknya merasa tidak terima mendengar pesan tersebut karena ia merasa lebih pantas menggantikan ayahnya. Purbararang akhirnya ingin mencelakai adiknya dengan menemui seorang nenek sihir.

Akibat dari nenek sihir tersebut kulit adiknya kini penuh dengan totol-totol berwarna hitam. Keadaan tersebut ia pakai untuk mengasingkan Purbasari ke dalam hutan. Purbasari mempunyai teman yaitu dari hewan-hewan yang tinggal di sana sehingga ia tidak merasa kesepian. Salah satu hewan yang menemaninya adalah seekor kera yang selalu membawakan buah serta bunga untuk menghiburnya. Kera tersebut pada suatu malam bersemedi. Kemudian secara tiba-tiba muncul air yang membentuk sebuah telaga dengan air yang jernih dan wangi.......................................

https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-indonesia-lutung-kasarung/

Prosa modern

Di Kota Padang pada awal abad ke-20, Samsulbahri dan Sitti Nurbaya—anak dari bangsawan Sutan Mahmud Syah dan Baginda Sulaiman—adalah tetangga dan teman kelas yang masih remaja. Mereka mulai jatuh cinta, tetapi hanya bisa mengakui hal tersebut setelah Samsu mengaku bahwa dia hendak ke kota Batavia (sekarang Jakarta) untuk melanjutkan pendidikannya.

Sementara, Datuk Meringgih, yang iri atas kekayaan Sulaiman dan mengkhawatirkan persaingan bisnis, berusaha untuk menjatuhkannya. Anak buah Meringgih menghancurkan hak milik Sulaiman, yang membuatnya menjadi bangkrut dan terpaksa meminjam uang dari Meringgih. Sulaiman yang tidak dapat melunasi utang kepada Datuk Meringgi pun dihadapkan kepada dua pilihan sulit, menyerahkan Nurbaya untuk menjadi istri Datuk Meringgi atau menyerahkan dirinya sendiri sebagai tahanan. Terdorong oleh rasa sayang kepada ayahnya, Nurbaya yang sudah tidak beribu itu pun terpaksa menyerahkan diri kepada Datuk Meringgi.

Dalam suatu surat ke Samsu, Nurbaya menyatakan bahwa mereka tidak dapat bersama lagi. Namun, setelah muak dengan watak Meringgih yang kasar itu, Nurbaya melarikan diri ke Batavia supaya bisa bersama Samsu; mereka akhirnya menjalin cinta kembali. Pelarian Nurbaya ini dilakukannya setelah Sulaiman meninggal. Pelarian Nurbaya tidak berjalan mulus, Datuk Meringgih kembali melancarkan rencana jahatnya dengan menuduh Nurbaya membawa hartanya ke Jakarta. Nurbaya pun harus kembali ke Padang untuk menyelesaikan tuduhan tersebut. Sekembalinya Nurbaya ke Padang, Datuk Meringgih pun melancarkan rencana jahatnya dan membunuh Sitti Nurbaya dengan cara meracuninya. Mendapati kekasihnya meninggal, gairah hidup Samsu pun lenyap, dia pun berusaha bunuh diri menggunakan pistol, namun tidak berhasil. Samsu kemudian mengganti namanya menjadi Mas—kebalikan dari Sam, nama panggilan Samsu—dan bergabung menjadi prajurit kolonial. Oleh karena tidak memiliki alasan untuk hidup sebab wanita yang dicintainya (ibunya dan Sitti Nurbaya) telah meninggal, dia pun tidak mempedulikan keselamatan. Setiap ditugaskan ke medan perang, Samsu berharap bisa mati sehingga dapat bergabung dengan ibunya dan Nurbaya di alam kubur. Namun sayang, usaha "bunuh diri" Samsu tidak tersampaikan, dia justru berhasil mengalahkan musuh-musuhnya sehingga dipandang sebagai prajurit berprestasi dan mendapat pangkat letnan.

Sepuluh tahun setelah peristiwa Samsu bunuh diri pasca-kematian Nurbaya, Meringgih memimpin suatu revolusi melawan pemerintah Hindia Belanda sebagai protes atas kenaikan pajak. Samsu ditugaskan ke Padang untuk menumpas Meringgi. Dalam peperangan ini, Samsu menemukan dan membunuh Meringgih, tetapi dia sendiri terluka berat. Setelah bertemu dengan ayahnya dan memohon maaf, dia meninggal (sumber : www.wikipedia.org).

https://moondoggiesmusic.com/cerita-rakyat/
http://khuswa93.blogspot.com/2017/03/prosa-fiksi-pengertian-jenis-unsur-dan.html
https://www.wisatapulausumaterabarat.com/433209115





    

Minggu, 10 Mei 2020

Fungsi Estetis Pada Karya Sastra

Fungsi Estetis 

    Sastra adalah keindahan, pada fungsi ini sebuah karya sastra harus bisa menunjukan atau menghandirkan keindahan dalam karyanya tersebut.
Sebenarnya fungsi sastra itu terbagi menjadi 5 fungsi:
  1. Fungsi Rekreatif (hiburan)
  2. Funsi Didaktif (pendidikan)
  3. Fungsi Estetis (keindahan)
  4. Fungsi Moralitas (nilai-nilai)
  5. Fungsi Religius (kepercayaan)
Dari kelima fungsi di atas secara personal ketika saya sedang menikmati sebuah karya sastra adalah fungsi estetis, mengapa? karena menurut pandangan saya sebuah karya sastra harus memiliki keindahan di dalamnya agar dapat menarik minat seseorang dalam menikmati sastra. Menurut saya sebagian besar sangat senang dengan sesuatu yang mengandung keindahan, oleh karena itu sayang personal memilih fungsi estetis karena menurut saya dari fuangsi keindahan mencangkup semua fungsi yang lain. Dalam keindahan pasti ada hiburan, mengapa? karena untuk sebagian orang keindahan itu dapat menghibur diri mereka, lalu dalam keindahan juga terdapat unsur pendidikan dan moralitas karena sebuah karya sastra yang indah itu pasti mempunyai nilai yang sangat tinggi dan dapat diambil pelajaran dalam karyanya. Apakah fungsi religius itu ada pada fungsi estetis? bisa jadi ada karena agama itu indah dan unik. bagaimana menurut kalian apakah kalian sependapat dengan saya atau tidak?