Jumat, 12 Juni 2020

The Necklace

Tema yang dia angkat pada cerpen "The Necklace" adalah 


  1. Tema Jasmaniah

Tema jasmaniah merupakan tema yang berhubungan atau pun terfokus pada permasalahan kondisi fisik manusia. Model tema ini biasanya menyangkut beberapa hal yang ada di dalam tubuh manusia seperti molekul, jasad, perasaan, tubuh, dan zat. Beberapa contoh tema yang jasmaniah adalah mengenai perasaan cinta.

  1. Tema Sosial

Tema sosial merupakan tema yang berkaitan erat dengan berbagai macam hal yang berbau urusan sosial. Dalam tema ini, pengarang cerita biasanya menjelaskan berbagai macam hal yang berkaitan dengan urusan kehidupan masyarakat, interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya, permasalahan sosial, dan berbagai macam tema lainnya.

    3. Tema Organik

Tema organik merupakan tema yang mencakup berbagai macam hal yang berhubungan erat dengan moral dasar manusia seperti hubungan antar pria dan wanita, nasihat, dan berbagai macam tema lainnya.


Tugas Novel

Mahasiswa, Anda senang baca novel apa..?

Jika Anda jadi penulis, Anda ingin menulis apa? Novelkah? Kenapa?

Saya yakin setiap penulis membuahkan tulisan yang sebetulnya ingin ia baca. Bagaimana dengan Anda? 


- Sejatinya saya lebih suka menonton sebuah film tapi ketika saya mencoba untuk membaca novel saya pikir it's good.

- Jika saya adalah seorang penulis saya mungkin akan menulis sebuah novel, mengapa? karena menurut  saya novel bisa menjadi tempat keluh kesah sayang atau sebuah fantasi yang ada didalam pikiran saya bisa saya tuangkan kedalam novel, tujuannya untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan kepada semua orang dalam bentuk tulisan 

- Ya sayapun begitu karena menurut saya sangat menyenangkan apa bila apa yang kita pikirkan selama ini bisa diabadikan dan dibaca kapanpun kita ingin mengingatnya.    


Metode Penelitian dalam Cerpen Ada Tuhan Karangan Lianatasya

Metode Analisi pada Cerpen "Ada Tuhan"
Karangan : Lianatsya

           Dalam cerpen yang berjudul "Ada Tuhan" karangan Lianatasya ini dapat di analisi atau dikaji dengan menggunakan beberapa metode penelitian, diantaranya :

1. Metode Hermeneutika 

        Secara etimologis hermeneutika berasal dari kata hermeneuien, yang berasal dari bahasa yunani yang bererti menafsirkan atau menginterpretasikan. Fungsi utamanya untuk memahami sebuah agama, maka metode ini dianggap tepat untuk memahami karya sastra dan yang paling dekat agama adalah karya sastra.

        Mengapa metode ini tepat untuk digunakan pada cerpen ini karena topik yang diangkat adalah tentang agama. Yaitu bagaimana yakin akan apa yang telah tuhan berikan kepada kita sebagai seorang manusia.

2. Metode Kualitatif 

        Mengapa metode ini juga bisa digunakan dalam cerpen tersebut? karena metode ini sangan memperhatikan nilai-nilai ataupun pesan yang terdapat pda novel tersebut.

3.  Metode Deskriptif Analisis

        Metode ini juga cocok karena mendeskripsikan fakta-fakta yang ada didalam kehidupan kemudian dianalisis

4.  Metode Sosiologis 
    
        Terakhir ada metode sosiologis sang peneliti bisa menggunakan metode ini dalam penelitiannya karena pada novel tersebut juga membahas sisi social dari si tokoh utama.


metode diatas adalah murni dari pendapat saya sekian dan terimakasih.

Daftar pustaka 

http://cerpenmu.com/penulis/lianatasya






Minggu, 17 Mei 2020

Prosa Fiksi di Indonesia dan Perkembanganya

Pengertian Prosa Fiksi 

    Prosa Fiksia adalah suatu karya sastra yang berbentuk narasi atau  sifat yang berbentuk khayalan 
dan benar-benar tidak terjadi di dunia nyata. Prosa merupakan suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena varian ritem "rhythm" yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Namun secara harifiah kata prosa berasa dari bahasa latin yaitu "prosa" yang artinya terus terang 
    Prosa Fiksi ialah kisahan atau ceritera yang di emban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolaka dari hasil imajinasi pengarangnya 
( Aminuddin,  2002:66 ) 

Jenis-jenis Prosa Fiksi

1 ) Prosa Fiksi lama
        Prosa Fiksi lama adalah Prosa bahasa Indonesia yang belum terpengaruh budaya barat.
ciri-cirinya adalah 
a ) bersifat statis atau mengalami pengembangan yang lamban
b ) bersifat istana sentris
c ) bersifat fantasi
d ) bersifat anonim

2 ) Prosa Fiksi Modern
        Prosa Fiksi modern adalah sebuah karya sastra yang ceritanya telah terpengeruh oleh budaya barat.
ciri-cirinya adalah :
a ) bersifat dinamis atau berubah-ubah
b ) bersifat realistis
c ) adanya perngaruh budaya barat
d ) terdapat nama pengarang

untuk unsur-unsur dalam Prosa Fiksi intrinsik ataupun ekstrisnsik hampir sama dengan unsur unsur yang ada pada cerita novel yaitu :
- tema
- tokoh 
- alur 
- amanat
- latar
- sudut pandang 
- gaya bahasa

Sejarah Perkembangan Prosa Fiksi di Indonesia

a.    Periode Balai Pustaka (1920-1930)
Angkatan Balai Pustaka lahir pada tahun 1920, menguat pada 1925-1935 dan melemah pada 1940. Jenis prosa yang dominan pada periode ini adalah roman atau novel. Permasalahan yang diangkat kebanyakan roman pada periode ini adalah adat, jarak antara kaum tua dan kaum muda, umumnya bersifat kedaerahan. Contohnya Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, dan Salah Asuhan karya Abdul Muis.
b.    Periode Pujangga Baru
Angkatan Pujangga Baru lahir pada tahun 1930, menguat pada 1933-1940, dan melemah pada 1945. Jenis prosa yang dominan adalah roman. Permasalahan yang diangkat pada periode ini adalah kehidupan masyarakat kota, individu manusia, nasionalisme, dan bersifat didaktis. Contohnya Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana, Belenggu karya Armijn Pane, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka.
c.    Periode 1945
Angkatan ini populer dengan nama angkatan Chairil Anwar dengan puisi-puisinya. Untuk prosa fiksi, bentuk cerpen mulai dominan menyertai roman. Angkatan ini lahir pada 1940, menguat oada 1943-1953, dan melemah pada 1955-an. Permasalahan yang muncul dalam karya periode ini seputar kemasyarakatan, kemiskinan, hak asasi, ketidakadilan, dan lain-lain. Timbulnya permasalahan ini disebabkan pada masa itu Indonesia sedang berjuang merebut kemerdekaan.
Contoh karya pada saat itu, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (kumpulan cerpen) karya Idrus, Atheis (novel) karya Achdiat Karta Mihardja, dan Jalan Tak Ada Ujung (novel) karya Mochtar Lubis.
d.    Periode angkatan 1950
Angkatan ini mulai muncul (lahir) pada tahun 1950, menguat pada 1955-1965, dan melemah pada 1970. Corak sastra pada periode ini beragam, ada yang tunduk dengan politik dan ada yang tetap bebas. Contoh karya pada periode ini Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Penakluk Ujung Dunia (novel) karya Bokor Hutasuhut, dan Di Tengah Padang (kumpulan cerpen) karya Bastari Asnin.
e.    Periode angkatan 1970
Angkatan ini sudah mulai muncul pada 1960-an, namun mulai menguat pada 1970-an dan melemah sekitar tahun 1980-an. Pada periode ini mesin cetak mulai berkembang sehingga banyak karya sastra yang bermunculan. Tema yang muncul pada karya periode ini adalah sufistik (religius) dan absurdisme (simbolik). Contoh karya pada periode ini Godlob (kumpulan cerpen) karya Danarto. Olenka (novel) karya Budi Darma, Stasiun (novel) karya Putu Wijaya, dan Khotbah di Atas Bukit (novel) karya Kuntowijoyo. 

Di bawah ini adalah satu contoh karya Prosa Fiksi lama dan Prosa Fiksi Modern
 
Prosa lama

Cerita lutung kasarung bisa ditemui di daerah PasundanDi daerah tersebut tinggal seorang raja yang sangat bijaksana bernama Prabu Tapak Agung. Raja ini mempunyai dua orang anak yang bernama Purbasari dan Purbararang. Di akhir hidup sang ayah, ia berpesan kepada kedua anaknya bahwa ia ingin turun tahta. Ia meminta Purbasari agar menggantikan kedudukannya sebagai seorang pemimpin di kerajaannya. Kakaknya merasa tidak terima mendengar pesan tersebut karena ia merasa lebih pantas menggantikan ayahnya. Purbararang akhirnya ingin mencelakai adiknya dengan menemui seorang nenek sihir.

Akibat dari nenek sihir tersebut kulit adiknya kini penuh dengan totol-totol berwarna hitam. Keadaan tersebut ia pakai untuk mengasingkan Purbasari ke dalam hutan. Purbasari mempunyai teman yaitu dari hewan-hewan yang tinggal di sana sehingga ia tidak merasa kesepian. Salah satu hewan yang menemaninya adalah seekor kera yang selalu membawakan buah serta bunga untuk menghiburnya. Kera tersebut pada suatu malam bersemedi. Kemudian secara tiba-tiba muncul air yang membentuk sebuah telaga dengan air yang jernih dan wangi.......................................

https://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-indonesia-lutung-kasarung/

Prosa modern

Di Kota Padang pada awal abad ke-20, Samsulbahri dan Sitti Nurbaya—anak dari bangsawan Sutan Mahmud Syah dan Baginda Sulaiman—adalah tetangga dan teman kelas yang masih remaja. Mereka mulai jatuh cinta, tetapi hanya bisa mengakui hal tersebut setelah Samsu mengaku bahwa dia hendak ke kota Batavia (sekarang Jakarta) untuk melanjutkan pendidikannya.

Sementara, Datuk Meringgih, yang iri atas kekayaan Sulaiman dan mengkhawatirkan persaingan bisnis, berusaha untuk menjatuhkannya. Anak buah Meringgih menghancurkan hak milik Sulaiman, yang membuatnya menjadi bangkrut dan terpaksa meminjam uang dari Meringgih. Sulaiman yang tidak dapat melunasi utang kepada Datuk Meringgi pun dihadapkan kepada dua pilihan sulit, menyerahkan Nurbaya untuk menjadi istri Datuk Meringgi atau menyerahkan dirinya sendiri sebagai tahanan. Terdorong oleh rasa sayang kepada ayahnya, Nurbaya yang sudah tidak beribu itu pun terpaksa menyerahkan diri kepada Datuk Meringgi.

Dalam suatu surat ke Samsu, Nurbaya menyatakan bahwa mereka tidak dapat bersama lagi. Namun, setelah muak dengan watak Meringgih yang kasar itu, Nurbaya melarikan diri ke Batavia supaya bisa bersama Samsu; mereka akhirnya menjalin cinta kembali. Pelarian Nurbaya ini dilakukannya setelah Sulaiman meninggal. Pelarian Nurbaya tidak berjalan mulus, Datuk Meringgih kembali melancarkan rencana jahatnya dengan menuduh Nurbaya membawa hartanya ke Jakarta. Nurbaya pun harus kembali ke Padang untuk menyelesaikan tuduhan tersebut. Sekembalinya Nurbaya ke Padang, Datuk Meringgih pun melancarkan rencana jahatnya dan membunuh Sitti Nurbaya dengan cara meracuninya. Mendapati kekasihnya meninggal, gairah hidup Samsu pun lenyap, dia pun berusaha bunuh diri menggunakan pistol, namun tidak berhasil. Samsu kemudian mengganti namanya menjadi Mas—kebalikan dari Sam, nama panggilan Samsu—dan bergabung menjadi prajurit kolonial. Oleh karena tidak memiliki alasan untuk hidup sebab wanita yang dicintainya (ibunya dan Sitti Nurbaya) telah meninggal, dia pun tidak mempedulikan keselamatan. Setiap ditugaskan ke medan perang, Samsu berharap bisa mati sehingga dapat bergabung dengan ibunya dan Nurbaya di alam kubur. Namun sayang, usaha "bunuh diri" Samsu tidak tersampaikan, dia justru berhasil mengalahkan musuh-musuhnya sehingga dipandang sebagai prajurit berprestasi dan mendapat pangkat letnan.

Sepuluh tahun setelah peristiwa Samsu bunuh diri pasca-kematian Nurbaya, Meringgih memimpin suatu revolusi melawan pemerintah Hindia Belanda sebagai protes atas kenaikan pajak. Samsu ditugaskan ke Padang untuk menumpas Meringgi. Dalam peperangan ini, Samsu menemukan dan membunuh Meringgih, tetapi dia sendiri terluka berat. Setelah bertemu dengan ayahnya dan memohon maaf, dia meninggal (sumber : www.wikipedia.org).

https://moondoggiesmusic.com/cerita-rakyat/
http://khuswa93.blogspot.com/2017/03/prosa-fiksi-pengertian-jenis-unsur-dan.html
https://www.wisatapulausumaterabarat.com/433209115





    

Minggu, 10 Mei 2020

Fungsi Estetis Pada Karya Sastra

Fungsi Estetis 

    Sastra adalah keindahan, pada fungsi ini sebuah karya sastra harus bisa menunjukan atau menghandirkan keindahan dalam karyanya tersebut.
Sebenarnya fungsi sastra itu terbagi menjadi 5 fungsi:
  1. Fungsi Rekreatif (hiburan)
  2. Funsi Didaktif (pendidikan)
  3. Fungsi Estetis (keindahan)
  4. Fungsi Moralitas (nilai-nilai)
  5. Fungsi Religius (kepercayaan)
Dari kelima fungsi di atas secara personal ketika saya sedang menikmati sebuah karya sastra adalah fungsi estetis, mengapa? karena menurut pandangan saya sebuah karya sastra harus memiliki keindahan di dalamnya agar dapat menarik minat seseorang dalam menikmati sastra. Menurut saya sebagian besar sangat senang dengan sesuatu yang mengandung keindahan, oleh karena itu sayang personal memilih fungsi estetis karena menurut saya dari fuangsi keindahan mencangkup semua fungsi yang lain. Dalam keindahan pasti ada hiburan, mengapa? karena untuk sebagian orang keindahan itu dapat menghibur diri mereka, lalu dalam keindahan juga terdapat unsur pendidikan dan moralitas karena sebuah karya sastra yang indah itu pasti mempunyai nilai yang sangat tinggi dan dapat diambil pelajaran dalam karyanya. Apakah fungsi religius itu ada pada fungsi estetis? bisa jadi ada karena agama itu indah dan unik. bagaimana menurut kalian apakah kalian sependapat dengan saya atau tidak?

Minggu, 26 April 2020

Pengertian Sastra

Assalamualikum Wr. Wb

Apa itu Sastra 

Hal Penting Di Jurusan Sastra Yang Harus Kamu Tahu - Tes Bakat ...


Sastra merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa sansekerta yang berarti teks yang mengandung "Intruksi" atau "pedoman". Dari kata "Sas" yang berarti "Ajaran" dan "Tra" yang berarti "Sarana" namun, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan trulisan biasa lainnya, memiliki berbagai cirri keunggulan, keaslian, keartistikan, keindahan, isi dan ungkapan. Karya sastra sendiri merupakan karangan yang memiliki nilai kebaikan berupa tulisan dengan bahasa yang indah penuh estetika. Sastra sendiri juga memberikan pengetahuan dan wawasan umum mengenai manusia, sosial, intelek, dengan gaya yang khas dan unik. Di mana pembaca sastra dapat menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan pengalamanan dan wawasannya, Semua kembali ke pembaca dan penikmat.

Banyak orang yang keliru dalam memaknai sastra itu sendiri karena sering kali seseorang memaknai sastra hanyalah sebuah teks saja, padahal tidak semua teks adalah sastra. Sastra adalah suatu hal yang berhubungan dengan bahasa yang dijadikan sebagai wahanan untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu atau imajinas dari seorang sastrawan itu sendiri. Sastra adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi dari kehidupan manusia melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap manusia ( Mursal Esten 1978:9)

Ilmu sastra sudah merupakan ilmu yang cukup tua usianya. Ilmu ini sudah berawal pada abad ke-3 SM, yaitu pada saat Aristoteles ( 384-322 SM) menulis bukunya yang berjudul Poetica yang memuat tentang teori drama tragedi. Istilah poetica sebagai teori ilmu sastra, lambat laun digunakan dengan beberapa istilah lain oleh para teoretikus sastra seperti The Study of Literatur, oleh W.H. Hudson, Theory of Literatur Rene Wellek dan Austin Warren, Literary Scholarship Andre Lafavere, serta Literary Knowledge (ilmu sastra) oleh A. Teeuw. Ilmu sastra meliputi ilmu teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra. Ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait dalam pengkajian karya sastra. Dalam perkembangan ilmu sastra, pernah timbul teori yang memisahkan antara ketiga disiplin ilmu tersebut. Khususnya bagi sejarah sastra dikatakan bahwa pengkajian sejarah sastra bersifat objektif sedangkan kritik sastra bersifat subjektif. Di samping itu, pengkajian sejarah sastra menggunakan pendekatan kesewaktuan, sejarah sastra hanya dapat didekati dengan penilaian atau kriteria yang pada zaman itu. Bahkan dikatakan tidak terdapat kesinambungan karya sastra suatu periode dengan periode berikutnya karena dia mewakili masa tertentu. Walaupun teori ini mendapat kritikan yang cukup kuat dari teoretikus sejarah sastra, namun pendekatan ini sempat berkembang dari Jerman ke Inggris dan Amerika. Namun demikian, dalam prakteknya, pada waktu seseorang melakukan pengkajian karya sastra, antara ketiga disiplin ilmu tersebut saling terkait. 



Berdasarkan urutanya sastra di bagi menjadi 6 golongan 

Golongan pertama adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa bekas kaum penjajah—bahasa-bahasa Prancis, Spanyol, Portugis dan—terutama—Inggris. Lagipula, lembaga penerbitan di khazanah bahasa-bahasa itu memang luar biasa kuatnya, sehingga jadilah mereka agen-agen globalisasi yang kuat. (Maka kita paham kenapa sastra Argentina dan sastra Brasil mudah ditangkap oleh industri perbukuan di dunia ini.) tokoh tokoh yang terkenal dalam masa itu adalah Viktor Hugo, Alexander Dumas, Charles Dicknes
Golongan kedua adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang terpelihara sejak dari masa klasik ke masa modern—misalnya saja, bahasa-bahasa Arab, Turki, Cina, Jepang. Sementara itu, minat dunia akademik di Barat terhadap bahasa-bahasa ini juga sudah melembaga lantaran bangsa-bangsa yang membawa bahasa-bahasa tersebut (pernah) telanjur kuat dalam sebaran agama, perdagangan, dan diaspora terkait.tok
Golongan ketiga adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa Eropa “pinggiran”—misalnya bahasa-bahasa Rusia, Finlandia, Swedia, Cek; bahkan bahasa-bahasa Albania, Polandia, Lithuania. Mereka ini bukan hanya “saudara sepupu” Eropa Barat; dalam lapangan seni budaya, mereka pernah menyumbang banyak kepada gerakan modernisme artistik
Golongan keempat adalah sastra-sastra dalam bahasa-bahasa setempat yang, betapapun lebih terbaca luas di negeri-negeri bersangkutan, tertutup (kepada dunia luar) oleh sastra berbahasa bekas-penjajah, misalnya Inggris. Ini kasus untuk sastra-sastra yang ditulis dalam  bahasa-bahas Hindi, Tamil, Telugu, Mayalayam, Bengali, Urdu di anak benua India dan Pakistan, misalnya.
Golongan kelima adalah sastra-sastra nasional yang dijajakan oleh bangsa-bangsa yang bersangkutan ke seluruh dunia, sebagai bagian dari kiprah mereka sebagai kekuatan ekonomi dan budaya yang baru. Misalnya saja sastra Korea Selatan dan Cina. (Sebagaimana kita tahu, Korea Selatan, adalah negeri yang sangat bersistem mengembangkan ekonomi kreatif.)
Golongan keenam adalah sastra-sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa nasional yang tidak dikenal dunia; dan bangsa-bangsa yang bersangkutan pun tidak menjalankan diplomasi budaya yang genah, yang bisa membuat hasil-hasil seni dan sastra mereka dikenal masyarakat internasional. Sastra Indonesia termasuk ke golongan ini. ( Nirwan Dewanto editor sastra dan kurator seni )

https://islandsofimagination.id/web/id/articles/dimanakah-sastra-dunia
http://repository.ut.ac.id/4735/1/PBIN4104-M1.pdf




Senin, 06 April 2020

Tokoh Public Speaker


BUNG KARNO                                                                                         The Complete Speaker

















As Indonesian people, who does not know this figure? Even if someone does not know him, his historical knowledge must be questioned. Ir. Soekarno or better known as Bung Karno. He is a reliable speaker and also an Indonesian proclaimer, which was due to his speech at that time in front of Indonesian youth and broadcast on all radio in Indonesia. Until now Indonesian became an independent and sovereign country.

The matter of public speaking and inspiring the people of Indonesia, he is a champion. Through his speech that was load, firm and burning. With his rhetorical style, Soekarno was able to hypnotize and convincw his listeners to justify what he said, so he deserves tobe calles a complete speaker.
Ir Soekarno
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!
Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu!
Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.
Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

The example above is one of the excerpts from Ir. Soekarno about Gayang Malaysia
Besides having a load voice Ir.Soekarno was also clever in terms of choosing the right dictionin his speech to make his listerners always feel what he was talking about. Next is the repetition of words at each speech. Repeating the word is done so that the communicant can easily remember the message conveyed. Like the speech that Ir. Soekarno conveyed on August 17, 1963: (penyambung lidah rakyat)
“Jikalau ada kalanya, saudara-saudara merasa bingung, jikalau ada kalanya, saudara-saudara hampir berputus asa, jikalau ada kalanya,  saudara-saudara kurangnya mengerti jalannya revolusi kita, memang kadang-kadang seperti bahtera di lautan badai yang mengamuk ini”

In addition to choosing the right diction and the wors repetition technique, Ir. Soekarno also had good body language when he gave a speech. So do not be surprise if he was entered into one of the best speakers and he was called “lion podium”
Although often considered not important, but actually the science  of public speaking has a very big influence on life
REFERENCES